Sunday, October 15, 2006
"
saya pindah rumah
"

8 Oktober 2004, saya mulai nge-blog untuk yang pertama kali. postingan pertama saya adalah tentang persahabatan. itu bukan tulisan saya sendiri, tetapi saya usung dari sebuah pesan berantai dari milis tetangga.

ada beberapa alasan mengapa saya nge-blog. pertama, karena saya tidak suka menulis dengan tangan. menarikan jemari di atas keyboard rasanya kok lebih asik ketimbang mencoretkan pena diatas kertas. saya juga tak biasa menuliskan cerita kemarin pada sebuah catatan harian. dus, perkawinan dari keduanya ini adalah sebuah keinginan untuk nge-blog, menulisi halaman di sebuah page di internet. saya tahu segala risikonya: di curi, menjadi bahan pembicaraan orang, hilang tak terlacak ... tapi saya juga tahu keuntungannya: saya bisa mentertawakan diri sendiri dengan kekonyolan patah hati maupun buncah rindu di musim merah jambu, saya bisa mencatatkan setiap perjalanan di ujung minggu ke jogja dengan segala permakluman redaktur dan seisi kantor, dan kakak saya diseberang sana tahu bagaimana adiknya berulah di jakarta. ;)) 

alasan kedua, dalam beberapa hal, saya tak bisa bercerita secara verbal dengan kakak saya, sahabat saya, ayah saya, pacar saya, teman-teman saya, shaabat saya. selalu saja ada yang 'ketinggalan' yang lupa saya ceritakan, atau sengaja saya sembunyikan. eh ... cerita-cerita ini, keluar juga di tulisan di blog saya. misalnya, soal pencanangan tahun bule australia di tahun 2004, soal hati saya yang menggejolak saat ayah saya sakit, soal rolling kompartemen di tempat saya bekerja, soal musik yang menghentak dan goyangan badan sepanjang malam, dan masih banyak lagi! jadi, bila mulut dan mata saya tak bisa jujur, setidaknya jemari saya bisa mengatakannya di blog saya. 

alasan ketiga, saya mencari rumah maya yang murah meriah ... kalau bisa, gratis sekalian! nah, medianya adalah blog. tak harus susah-susah men set up karena semuanya sudah ada template nya. tinggal memilih operator, nama yang mudah diingat, desain, dan blog configuration. jadi deh satu blog! gratis! media ini menjadi luapan napsu untuk setiap keinginan menulis dan bercerita. maklum, bahasa tulis saya lebih bagus ketimbang bahasa tutur, meski dalam bahasa tutur tak semua ekspresi bisa tertumpahkan. tapi, setidaknya, saya tahu dimana harus memuaskan libido menulis saya. kelak, ketika saya tua, saya bisa membukanya kembali, klik klik klik klik ... dan saya bisa menengok bagaimana cerita tolol saya yang tengah ajep-ajep, bagaimana saya jatuh cinta pada orang yang salah, bagaimana saya tak bisa menyembunyikan kesedihan saya saat ayah saya meninggal, bagaimana kantor di tempat saya bekerja memberikan rasa nyaman ... 

maka, bila harus dimasukkan dalam kategori jenis blogger, saya adalah jenis blogger yang narsis. 

Blogger Narsis: Inilah Blogger yang sangat individual-sentris. Tak peduli apa yang sedang terjadi di dunia, yang jelas, ia hanya sibuk dengan posting tentang dirinya sendiri: berisi agendanya sehari-hari hingga sepekan mendatang. Sering memajang foto sendiri ataupun barang-barang pribadi lainnya. Jadi kalau ingin berkenalan dengannya, Anda tak perlu ketemu, cukup baca Blognya — dijamin akan mengenalnya dari A-Z!

ada 12 penggolongan blogger, mulai dari blogger pesolek, blogger profesional, blogger entrepreneur, blogger selebritas, blogger gaul, dll. hehehehe ... rupanya saya salah adalah blogger narsis.

apapun jenisnya, bisa jadi saya tidak terlalu ambil peduli. saya menulisi halaman demi halaman, yang jumlahnya mencapai lebih dari 450 postingan hingga 14 Oktober 2006. tentu saja, angka ini terbilang kecil dan sangat sedikit dibanding beberapa blog lain. namun setidaknya saya menulisi sejarah hidup saya, sehingga kelak tak perlu menyewa penulis untuk menulis biografi saya. ;)) saya juga menulis dengan gaya bahasa yang berbeda, dengan topik yang berbeda, dengan emosi yang berbeda ... dengan tulisan-tulisan yang saya tulis saban minggu untuk mingguan di tempat saya bekerja. saya tahu, tulisan yang syaa tulis di blog banyak yang tidak mutu. tetapi itu tak masalah, toh itu adalah blog pribadi. namanya juga blog narsis. ;)) lain halnya kalau blog selebritas, tentunya isinya agenda syuting selebriti anu dan jadual press confrence perceraian si anu. wah ...

tetapi beberapa hari terakhir ini saya agak susah menilik tulisan saya di http://femi.blogdrive.com. mestinya, setiap posting, akan langsung muncul karena saya tak mengubah settingan waktu dan tanggal. tetapi, saya harus menunggu satu hari, bahkan lebih, untuk bisa melihat tampilan postingan terakhir. bahkan, saya tak menemukan postingan soal tengkleng solo yang saya posting kemarin. wah ... jadinya, saya pindah rumah. ya, saya memiliki rumah baru sekarang.

rumah baru saya sekarang ada di
wordpress. iya, klik saja link itu, atau http://femiadi.wordpress.com. saya pindahan. tapi saya tak mengusung ratusan tulisan syaa ke rumah yang baru. saya membiarkannya tetap berada di sana. saya hanya akan menengoknya sesekali, dan mengenangkan kembali soal musim merah jambu dan bualan lelaki-lelaki yang membuat saya klepek-klepek, juga rumah kos di palmerah yang jarang saya huni dan capeknya berkendara dengan kereta ekonomi setiap minggu. ;))

 dus, rumah pertama saya adalah di Jogja, rumah kedua di palmerah, rumah ketiga di tempat saya bekerja, rumah keempat di rumah maya ini. catat,
saya sudah pindah rumah. 

Posted at 06:23 am by femi
Mengumbar celoteh  

Saturday, October 14, 2006
"
my popeye will move to france
"

   

 

pagi ini saya mendapat kabar dari abang saya soal kepindahannya akhir tahun ini. saya sedih.  

 

+ aku pindah ke france akhir tahun ini.

- kapan? nggak jadi ke bangladesh?

+ nggak. aku harus ke headoffice di france. nanti nggak tahu dilempar kemana. tapi aku sesungguhnya ingin ke bangladesh saja.

- kpan berangkat? (suara saya sudah serak ... sedih!)

+ hmm ... tanggal 10 nanti, mau ke USA dulu, pulang, dan kemudian ke france.

 

speechless. saya sedih. dasar pelaut!

beberapa masa saya habiskan bersamanya. sejenak. ditengah kesibukan. mencuri weekend. meletakkan letih. duduk-duduk di beranda hati. bercanda dengan senja. piknik 512 km ke arah timur jakarta. menggemericikkan bath tub. menawarkan odol. mendendangkan don williams. meminggirkan pekerjaan, mengkonsentrasi pada suara di seberang telepon. memetik bintang. berbagi harum. secangkir dilmah black tea plus susu dancow. berkisah soal black label dan wine. impian melaut kembali di usia 40.

 

- I will miss u ...

+ me too ... tapi aku harus pergi. aku orang yang tak berumah ..

 

iya, iya. jelas kamu tahu bang, saya akan patah hati. hah!! iya, saya enggak bohong. bagaimana saya bisa melupakan perbincangan pertama di telepon seluler, dengan aksenmu yang tak jelas. atau, bagaimana saya bisa menyembunyikan keterkejutan saya saat abang ingin ikut ke Jogja bersama saya di ujung minggu, saat itu. atau, bagaimana saya bisa menawan tawa saat teringat abang menawar busur panah dan topeng indian. atau, bagaimana saya bisa mengabaikan abang yang masuk ke starbucks dengan kemeja rapi, berdasi merah, celana biru donker, sementara di ujung minggu abang hanya menggunakan celana kolor, tanpa sandal, berkaos lusuh, dan menjemput saya di rumah.

 

You placed gold on my finger you brought love like I've never known
You gave life to our children and to me a reason to go on
You're my bread when I'm hungry you're my shelter from troubled winds
You're my anchor in life's ocean but most of all you're my best friend

When I need hope and inspiration you're always strong when I'm tired and weak
I could (search this whole world over you'd still be everything that I need)
You're my bread (when I'm hungry you're my shelter from troubled winds
You're my anchor in life's ocean but most of all you're my best friend)
You're my bread (when I'm hungry you're my shelter from troubled winds
You're my anchor in life's ocean) but most of all you're my best friend

saya tahu persis bagaimana rasanya kehilangan. dan saya akan menjelang itu, nanti, pada 10 desember 2006. ya, ya. saya akan kehilangan satu abang.

 

(ps: bang, saya ingat betul bagaimana kamu tertawa terbahak saat saya menyebutmu sebagai popeye. kemudian kamu mencari, siapa olive dan brutus nya. dan kamu tergelak. popeye ... popeye ... I will miss u, popeye!)


Posted at 04:14 pm by femi
Mengumbar celoteh  

"
beli bekal
"

    

pagi tadi saya menyiapkan bekal untuk libur panjang lebaran nanti: wine.

saya membungkus dua botol wine merah kesukaan saya: shiraz dan cabernet franc shiraz. saya masih menebak-nebak nih bagaimana rasanya nanti. mm ... tapi itu jenis full bodied yang rasanya gentle. hmmh ... kayaknya bakal oke nih libur lebaran nanti.

pasangannya apa ya?

mungkin saya akan memasak rendang. (memasak? aih, nggak salah fem??) atau, bisa jadi rawon. yang jelas kalau disandingkan dengan opor ayam ... kayaknya nggak cocok deh. saya sudah membayang-bayangkan, pasti seru sekali nanti makan di rumah bersama teman-teman, memulas malam dengan tawa dan sebuncah cerita-cerita seru. wah!  

ada yang mau bergabung?   

 


Posted at 04:03 pm by femi
Mengumbar celoteh  

Friday, October 13, 2006
"
ngiler tengkleng
"

 

makan? jelas saya jagonya!

mestinya semalam saya melaju dengan sekawanan makhluk-makhluk berperut lapar untuk menyerbu kawasan TB Simatupang. yups. kami hendak berburu tengkleng.

tapi rencana bubar. satu per satu dari sekawanan itu mengundurkan diri. selain jalanan macet, ada yang liputan, ada juga yang belum pulang. yang kebih kocak lagi, ada yang lagi main drama satu babak. hallah ... "lha dia ngajakin syuting film india dulu!" tunjuk aan pada febi, calon istrinya.

aduh aduh aduh aduh ...

repotnya sih berjejalin. wong bentar lagi mau nikah aja mesti pake berantem dan nangis bombay segala. kan saya jadi salah tingkah sendirian. mau masuk kamar, kok lagi ada yang rekonsiliasi. mau ke kamarnya mas adi, cuman ada mas kumis. mau makan keluar, dompetnya di kamar. aduh ...  

terus, bagaimana dong tengklengnya?  

makanan khas solo berbumbu komplit ini urung diampirkan ke perut. dus, tak ada olahan cengkeh, kayu manis, kapulaga, klabet, tulang iga kambing dan dagung, sere, jeruk purut, asam jawa, santan, cabe bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, merica, jinten, jahe, kunyit, dan lengkuas yang masuk perut. masa sih saya harus masukin semua bumbu itu ke perut mentah2 dan di dalam perut tersulap menjadi tengkleng ...

sudah sudah sudah sudah ...

bukan masalah tengklengnya kok. yang menjadi masalah adalah saya lapar dan tak bisa makan karena tak ada sepserpun di kantong. Big Smile eh ... sebentar sebentar. di kantong rupanya terselip Rp 15 ribu.

lumayan, sebagai ganti tengkleng, lele dan dua iris tahu plus tempe, bisa mengganjal.

ayo rukun, daripada nangis bombay begitu, lebih baik nangisin tengkleng yang urung dimakan kan? hahaha ...

 


Posted at 11:54 am by femi
Mengumbar celoteh  

Sunday, October 08, 2006
"
weekend yang sempurna
"

   

minggu lalu, saya ngeri membayangkan akan menghabiskan weekend di Jakarta.

hitungan saya, saya pasti akan menghabiskan sepanjang hari mengetik di kantor, atau di kos. kemudian mencuci pakaian dalam. bercengkerama dengan teman-teman satu kos. kesusahan mencari makan siang. kegerahan di kamar kos. dna mulai kesepian karena satu per satu menghilang untuk pacaran. ujung-ujungnya, saya menghabiskan hari diatas kasur. sibuk membaca, menyeterika baju, tiduran sambil mendengarkan musik. pokoknya, membunuh hari yang panjang.

harusnya kami camping di jogja. atau jadual cadangan kami adalah jalan-jalan ke Bandung. tapi, pekerjaan membatalkan semuanya. saya harus nelangsa berakhir pekan di Jakarta.

eh, tetapi tidak lo. coba lihat apa yang sudah saya lakukan di jakarta selama weekend kemarin.

saya menjumpai seorang teman. kami bercengkerama hingga larut malam. dua gelas black tea plus susu, dan beberapa gelas air mineral. kami membincangkan senja yang pernah kami lantunkan di pojok jogja. juga, tentang segelas kopi hitam ice blended di starbucks tebet. dan, tentang desain esok hari yang harus kami untai. kami yakin, kami hanya duduk bersisian saja di beranda hati kami. tak lebih dari mengguncangkan bahu kami saat tawa pecah berderai, atau saat gelak terurai dengan sempurna dan bulir bahagia menetes dari sudut mata. saat itu saya berharap pagi tidak segera tiba. tapi itu hanya kembang harap saja. bagaimana seorang femi bisa menghentikan pergerakan malam?

paginya, saya membungkus sebelas film di glodok, dan beberapa keping audio. sesungguhnya saya sangat menyukai sabtu. dia hangat, bersahabat, dan membebaskan pikiran untuk sejenak bersantai. hmmh ... tapi sabtu pagi saya masih membopong kekhawatiran, saya akan kesepian di Jakarta. eh, saya ingat, saya masih punya sederet acara yang mestinya tak bisa dibatalkan, yaitu menuju radio dalam. aan, febi, deon, dan dodid sudah menanti di sana. juga, beberapa masakan B2 dan B1 nan lezat. yummy. siapa yang tega meninggalkan santap siang ini? coba, tunjuk tangan? uwh, ternyata tak ada. bahkan, bimo pun akan buru-buru meluncur.

tapi sore sangat sepi.

deon liputan.

bimo tak kunjung datang.

dodid di lebak bulus

aan dan febi pacaran.

femi? femi kemana? terkurung di ruangan yang hangat di sebuah kos-kosan asing? uwh ...

saya takut.

saya takut sepi.

saya takut sendiri.

maka, tak ada salahnya berburu senja dan mengurai tawa dari tikungan bulungan, sembari menemani mas heru berbuka puasa. tapi surprise buat saya. saya kira, mas heru hanya mau makan sepiring-dua piring saja. ternyata, masih ada acara lihat-lihat cd ---yang kemudian bikin saya belanja cd-nya tompi--- dan mencecap legitnya gelato ala kafe pisa dan sepiring pizza ukuran reguler di tempat yang sama. duh! aduh mas, bukannya saya jaim. tapi perut saya masih agak penuh dengan B2 bekal makan siang tadi. dus, saya hanya bisa menyantap setengah piring gultik yang legendaris itu, dan satu iris pizza.

entah kenapa. malam itu ketakutan saya lenyap seketika. seiris pizza rasanya bak satu pan pizza. air mineral pun rasanya lebih nikmat dari biasanya. (eh, apa air mineral itu ada rasanya? nggak kan? tapi aneh, malam itu sepertinya air mineral itu berasa!). ya, ya. ini adalah nikmatnya punya teman untuk berbagi. melemparkan lelucon. melayangkan gugatan, mencandai nasib. mengamitkan jemari.

harusnya saya tak usah khawatir, saya punya banyak teman disini.

kembali ke radio dalam setelah penolakan satu taksi ekspress, saya melepaskan gundah yang bersarang di benak. mengguraui aksi orang jerman dan amerika yang berebut resep bir, sekaligus menjadikan saya sebagai objek gurauan(uwh ...!!!), berbagi dengan sahabat yang seolah membisiki saya, "jangan khawatir, weekend kamu akan menyenangkan di jakarta. kan ada kami ..."

meski saya menjadi anggota pasukan yang terlewatkan untuk kongko di circle K, tapi buncah bahagia malam itu tak bisa saya sembunyikan. catatan ingatan saya sudah merangkum semuanya: saya masih punya teman untuk berweekend di Jakarta. 

ps: special thanks to thusara, aan, deon, febi, dodid, bimo, mas heru.


Posted at 02:48 am by femi
Mengumbar celoteh  

Saturday, October 07, 2006
"
for you, friend
"

   

You're My Best Friend - Don Williams

 

YOU PLACED GOLD ON MY FINGER
YOU BROUGHT LOVE LIKE I'VE NEVER KNOWN
YOU GAVE LIFE TO OUR CHILDREN
AND TO ME A REASON TO GO ON

YOU'RE MY FRIEND WHEN I'M HUNGRY
YOU'RE MY SHELTER FROM TROUBLED WINDS
YOU'RE MY ANCHOR IN LIFE'S OCEAN
BUT MOST OF ALL YOU'RE MY BEST FRIEND 
WHEN I NEED HOPE AND INSPIRATION
YOU'RE ALWAYS STRONG WHEN I'M TIRED AND WEAK
I COULD SEARCH THIS WHOLE WORLD OVER
YOU'D STILL BE EVERYTHING THAT I NEED.

pagi tadi, seorang teman mendendangkan lagu ini. "dengar, saya punya lagu bagus buat kamu, femi ... coba, perhatikan liriknya ... lagu itu buat kamu!" ujarnya sambil melekatkan jari telunjuknya persis ke depan bibirnya, supaya saya diam dan menyimak lirik lagu don williams. Big Smile

iya, iya. keriuhan saya tiba-tiba terhenti. saya seperti tersihir oleh don williams ... dan tentu saja oleh dia yang membungkus lagu ini untuk saya. bagi saya, memilikinya sebagai teman, berbagi senja, berbagi secangkir kopi hitam dan dilmah tea, saling mengejek, menuturkan kesibukan sepanjang hari, mencecerkan pengalaman hidup, adalah sebuah aktivitas yang tak hanya membahagiakan saja, tetapi juga membangkitkan jiwa.

thanks god, I have u in my life!


Posted at 11:53 pm by femi
Mengumbar celoteh  

"
pesan seorang ayah pada anak lelakinya
"

  

seorang anak muda mulai menjajal hidup. merantau dari satu negeri ke negeri yang lain. menikmati matahari terbenam tanpa tahu kapan matahari terbit. mengukur koordinat laut dan merenangi lautan. pesan sang ayah pada anak lelaki semata wayangnya:

jika kamu ingin karir dan pekerjaan kamu beres di kantor, tolong, lebih baik tidak menjalin hubungan apapun dengan rekan sekantor. buntutnya bisa panjang dan promosi karir kamu akan mandek di tengah jalan. jangan rusak karir kamu.

bersenang-senanglah diluar. tanah yang kamu pijak diluar bukanlah tanah leluhurmu. berbuatlah sesuka hatimu. tempat dimana kamu hidup nanti bukanlah tempat kamu bertumbuh dewasa. pesanku nak, jangan berbuat apa yang kamu perbuat di tanah orang, di tanahmu sendiri atau tempat kamu tinggal. jangan rusak tempat asal kamu.

jangan minum di rumah sendirian. hari ini, kamu membeli gold label. besok, kamu minum satu sloki. besoknya lagi, minum dua sloki. besoknya lagi, kamu minum lebih dari itu, dan terus menambah volume minuman. jangan. jangan, nak. minumlah bersama dengan teman-temanmu. saling kontrol dan kamu punya teman untuk berbagi. 

dan benar, lelaki muda itu memegang teguh pesan yang dibisikkan oleh sang ayah, sesaat sebelum meninggalkan kota asalnya, NYC.

hingga saya menemukannya. ya, menemukan lelaki muda itu.

"apapun bisa terjadi di kantor saya, femi. seorang perempuan muda mendekati saya. mencoba menelisik apa saja yang saya lakukan di negeri ini. tidak ... tidak... saya ingat ayah saya. bila toh dia adalah perempuan tercantik di negeri ini, saya tak ingin menikahinya karena dia berada satu kantor dengan saya. tidak. saya tidak ingin merusak karirnya dan karir saya!" tukasnya cepat.

black dilmah tea yang dicampur dengan susu dancow putih yang kami tenggak, sudah hampir habis. sementara, percakapan kami mengenai affair di kantor, pekerjaan, pasangan hidup, jejak masa lalu, rencana esok hari, ... belum juga usai. betapa lelaki muda yang mengarungi lautan itu teguh dengan pesan sang ayah.

(saya jadi ingat ujaran yang mampir di telinga saya, saat rapat redaksi di kantor saya. "jangan memancing di kolam sendiri ..." artinya, jangan pacaran dengan orang sekantor) 

"juga, femi, jangan mabuk, minum dan melacur di kota asal kamu. dunia ini sempit, bukan? dalam kegelapan, kamu tak akan bisa meraba dan mengetahui bahwa tetangga sebelah rumah bekerja di sebuah bar tempat kamu kongko. dan bila di suatu malam kamu mabuk berat ... berita yang tersebar bulanlah 'semalam femi mabuk berat' ... tetapi 'femi itu pemabuk' ... jadi, berhati-hatilah. lakukan itu bukan di kota asal kamu," katanya lagi.

saya berpikir soal pesan pertama sang ayah.

saya juga berpikir soal pesan kedua sang ayah.

abang. ya, tuturnya seperti abang yang tengah menasehati adiknya yang tengah bertumbuh dewasa. saya merasakannya. ya, rasa itu seperti guyuran air hangat di shower kantor yang mengucur setitik demi setitik, namun hangat dan meyegarkan tubuh. seolah, segarnya air bening nan bersih itu mengantarkan tubuh pada sebuah dunia yang mahabesar menanti di depan sana. tetapi kali ini, dia tak hanya menghangatkan tubuh saya saja, tetapi juga menghangatkan jiwa saya. saya, anak kecil, perempuan 26 tahun tanpa asuhan ayah-ibu. hanya pengamatan kakak dari negeri seberang.

tiba-tiba saja saya ingin memeluknya. saya ingin membawa haru saya pada malam diluar yang menggigit dingin, ingin mencatatkan pesan sang ayah pada benak yang terus bergerak.

abang. ya, saya menemukan abang. yang selalu berpesan dan menularkan petuah bijak sang ayah pada adik kecilnya yang tengah bertumbuh.

saya memeluknya erat sembari melepas sebongkah harap, semoga abang menuntun saya pada sebuah kebaikan dan jalan hidup yang lebih baik.  

(mmm ... sesungguhnya saya agak canggung melekatkan kata 'abang' pada lelaki muda itu. soalnya, saya termasuk adik kecil yang pemilih kalau untuk urusan memilih abang. tak banyak yang saya panggil dan saya jadikan abang. kalau lelaki muda itu ... saya harus menemukan senja untuk bertanya apakah dia adlalah abang baru buat saya. dalam hati saya berbisik: Tuhan, tolong beri saya satu abang lagi ... ) 


Posted at 09:44 pm by femi
Mengumbar celoteh  

"
rosario hijau dari colombo
"

 

semalam saya berjumpa dengan seorang teman.

saya menjumpainya di kediamannya di bilangan Kelapa Gading. saya berniat mengantarkan satu keping CD yang sudah saya isi dengan beberapa gambar perjalanan kami beberapa waktu lalu, dan beberapa catatan mengenai perjalanan itu.

waktu bergulir dengan sangat cepat. obrolan tiada henti terjadi diantara kami. tentang pelayarannya. tentang pekerjaannya di bidang cargo. tentang black label dan gold label. tentang batu yang ia angkut dari gunung bromo. tentang kopi hitam sri lanka nan nikmat. soal senja yang pernah kami petik bersama. tentang ... banyak hal!

"saya punya sesuatu buat kamu. ya, mungkin nggak seberapa. tapi semoga ini berguna..." ujarnya, sekeluar dari kamarnya.

dan, betapa terkejutnya saya. perlahan, bulir bening menetes dari sudut mata. dari genggamannya, berpindah sebuah rosario kecil dan pendek berwarna hijau pohon. ya, sebuah rosario.

saya jadi ingin berdoa.

saya jadi ingat Bunda Maria.

saya jadi ingat, lama tidak berdoa rosario.

"terima kasih. terima kasih. terima kasih ... " tak henti-hentinya saya berucap terimakasih padanya. saya menutupi bening lembut yang jatuh menitik pada baju putih saya. dalam hati saya membisik, terimakasih ya, untuk sebuah rosario hijau kecil. untuk sebuah ingatan akan Bunda Maria. untuk waktu yang kita habiskan sejenak disela kesibukan pekerjaan kita. untuk sorot tajam mata kamu dan hangat tawa kamu. untuk pelukan hangat kamu.

"itu dari Colombo, dari sebuah tempat peziarahan disana ... saya juga menyimpan rosario yang sama persis dengan yang kamu punya, femi" ujarnya, sambil menunjuk pada sebuah patung Yesus berbaju merah, di dinding ruang tengah. di tangan Yesus tergantung rosario Bunda Maria yang sama persis dengan yang saya genggam.

saya tahu, Tuhan datang pada orang-orang di sekitar saya. dan kini, tanganNya bergerak melalui dia. Mmm ... saya malas menceritakan betapa saya bersyukur pada Dia tidak melalui doa yang sangat khusuk dan dalam keheningan. tapi rasa syukur atas apa yang saya dapatkan selama ini masih selalu saya ucapkan, saya nggak malas-malas amat. 

kedatanganNya melalui dia dan sebuah rosario dari Colombo itu, dengan rasa yang amat dalam ingin segera berdoa, sudah berkawan sejak lama. 

saya ingin berdoa. 

saya berbisik pada rosario hijau kecil itu. ya, saya tahu. rasa itu. ya, rasa itu. rasa syukur saya tak pernah berkurang. pada Tuhan. pada Bunda Maria. terimakasih telah membawa saya pada dia. yang kemudian mengantarkan rosario hijau ini pada saya.

"I'm blessed having u in my life ..." kata saya padanya. ya. rasa syukur itu juga kian menebal seiring perjumpaan saya dan dia, si pemberi rosario hijau itu.

saya memeluknya hangat. pulang.

   


Posted at 09:04 pm by femi
Comment (1)  

Monday, September 25, 2006
"
kecele
"

  

sore kemarin saya sudah duduk dengan sangat nyaman. ya, sangat nyaman.

saya berangkat ke Jakarta dengan kereta ekonomi. seperti biasanya, saya pulang bersama dengan teman-teman.  nyaris tak ada rasa risih duduk di sebelah lelaki muda bercelana jeans sobek dan mengusung ayam jago di kolong. "Ini biasa buat pertandingan," pamernya, sambil merokok.

saya hanya merasa geli bagaimana kalau pagi nanti ayam itu berkokok dan membangunkan seisi gerbong ini. atau, bagaimana kalau si ayam tiba-tiba lepas dari kandangnya dan menginjak-injak orang-orang yang tidur di koridor? hiyyy!

stasiun tugu.

stasiun sentolo.

stasiun wates.

stasiun jenar.

nah, ini dia. rasanya telinga menjadi seribu kali lebih peka. rasanya seperti ada kupu-kupu yang berjoged di dalam perut. rasanya seperti ada jarum yang menusuk-nusuk urat nadi. sayup-sayup telinga saya menangkap suara dari ujung bordes, "alon-alon ... nomere plencar-plencar ... 15 D, 15 E, 17 C, 9 A ... piye yo ... simbah digandeng ... maju sik ... sing penting mlebu ... iki tikete nang nggonku ..."

sontak, kepala saya menengadah ke arah nomer kursi. mati gue. kursi yang saya duduki ada yang punya. gue kecele. soedhar, teman saya, langsung mengacungkan segepok koran yang dibwanya. "tenang, ada koran ..."

benar. saya harus menyingkir. begitu jug soedhar.

saya menggelar koran. tebal. berharap, koran ini cukup hangat mengalasi badan saya yang juga tebal. saya merebahkan badan di koridor diantara kursi-kursi. tidur. selonjor. soedhar kemudian menyodorkan satu lembar lagi. katanya, untuk tutup wajah. ehm. bener juga. kalau nggak ditutupin, bisa-bisa ada tungkak, jempol atau tai kucing yang nyangkut di pipi atau hidung. tapi itu sudah untung lo, ketimbang yang keinjek kacamata gue???

jes jes jes ...

malam mengantarkan kami pada sang fajar. deru kereta menggertak dingin yang menyelusup ke tulang.

saya memukuli pemilik betis besar atau sandal kotor yang menginjak rambut saya atau yang memarkirkan kakinya tepat di depan wajah saya. bila ada kesempatan, saya menendangnya. yah, mereka pedagang cirebon yang nakal dan nekat.

pagi hari.

saya menemukan selembar koran yang sedianya menutupi wajah saya, tinggal berbentuk segitiga kecil. kecil sekali. hanya sobekan kecil. sialan. injakan pedagang semalaman dahsyat juga. saya bangun. bergegas untuk keluar gerbong. sudah sampai bekasi. sebentar lagi jatinegara, lalu senen. saatnya turun. 

 


Posted at 05:31 am by femi
Mengumbar celoteh  

Thursday, September 07, 2006
"
sudah 100 hari bapak pergi
"

 
pak, rumah kosong dan sangat sepi
tanpa bapak.
tanaman tetap hidup dan bunga tetap mengembang,
tapi sepertinya tak sesegar dulu.
jam dinding malas-malasan berdentang.

saya tahu, Tuhan sudah memberi rumah yang lebih indah buat bapak, tanaman yang lebih segar dengan warna kelopak yang lebih indah, dan jam yang lebih rajin berdentang.

Tuhan sudah memberi kehidupan yang lebih baik buat bapak, atas segala karma baik yang telah 78 tahun bapak lakukan selama hidup bapak.

berjalan, berjalanlah terus tanpa ragu menuju rumah bapak yang baru. saya tahu, suatu hari nanti saya akan berjumpa kembali dengan bapak. bercengkerama. bercanda. berdebat. membagi tawa.

di ujung sana, ibu dan mbahkung dan mbah putri  sudah menanti bapak dengan segenap kerinduan dan kasihnya.
may u all be absofuckinglutely h a p p y.

[31 mei 2006 - 7 september 2006]


Posted at 12:41 pm by femi
Mengumbar celoteh  

Next Page