pesawat jam 6.30 dari jogja ke jakarta. berarti harus sudah tiba di bandara adisutjipto setidaknya jam 5.30. berarti harus berangkat setidaknya jam 5.15 dari rumah.
aduh ... mati gue!
bangun pagi? jelas bukan femi jagonya! maka, saya meminta tolong paimun untuk membangunkan saya di pagi-pagi buta itu. saya harus bebenah rumah sebentar. memasukkan sampah dedaunan kering ke plastik besar. menghangatkan nasi dan ayam bakar.
saya juga harus ke arah selatan dahulu, menjemput ian. saya memintanya untuk mengantarkan saya ke bandara. saya sudah berjanji untuk menjemputnya. jam 5.00, saya bertolak dari rumah.
roda melaju ke arah bandara, jam 5.35. tumben, ian menyetir kendaraan dengan lebih kencarng ketimbang biasanya. apesnya, di janti ban belakang bocor.
aduh ... sialan. untung ada taksi yang lagi lewat di fly over.
sampai bandara, check in, dan menunggu sambil tidur. masuk pesawat, langsung tidur. di bus damri menuju kantor, tidur lagi.
ampun. jangan lagi saya naik pesawat sepagi ini.
dua porsi rica-rica B1 dan sepiring pasta menemani obrolan saya dan seorang teman.
kami berbincang soal hal remeh temeh yang tak penting dan nggak mutu. soal hati saya yang berkeping-keping. soal perempuan yang di absen-nya setiap malam. soal merapi yang masih menyisakan debunya. soal lelaki yang tak menemui ujung hatinya. soal perempuan yang tengah duduk bersisian di beranda hati. soal masa keemasan merenteng pasangan di masa lalu. soal pekerjaan yang tak kunjung usai.
+ bagaimana ya menemukan jodoh kita?
- yee ... coba aja cari di google search engine! siapa tahu jodoh kita ada di sana. kalau cakep ... boleh lah kita mempertahankan status kita sebagai single. tetapi, kalau nggak cakep ... wah, masa sih Tuhan kasih kita yang nggak cakep. ya sebisa mungkin lah kita memburu yang lain yang cakep dan menghindari hasil dari pencarian di google itu ...
+ hey, itu kan sudah garis nasibmu kalau di result di google search engine menampilkan gambar yang nggak cakep ...
menggelikan. dasar manusia bodoh. masa mencari jodoh di google search engine! lalu keyword nya apa? femi+jodoh. atau bisa coba femi,jodoh. atau mungkin jodoh=femi. kalau enggak, bisa dijajal femi=in=the=future.
hallah.
lalu kami mereka-reka seperti apa hasil dari pencarian di google itu. disana akan muncul data diri (calon) pasangan di masa yang akan datang. dari nama, alamat, pekerjaan, gaji, status kewarganegaraan, kebiasaan, hingga jumlah cotton bud yang dipakai setiap minggunya. juga, turut serta sketsa hitam putih wajahnya, dan foto diri sejak lahir hingga dewasa.
hahaha ...
+ bagaimana kalau kamu mengeklik di google, dan yang keluar adalah wajahku?
- aduh ... jangan deh. jangan deh fem. ampun. jangan lah. hahahaha ... itu pasti komputernya lagi error, atau engine nya nggak bisa membedakan mana sahabat dan mana pasangan hidup.
sialan.
kami memang tak putus asa dengan status kami yang tengah tak berbagi rona merah jambu dengan pasangan kami masing-masing. musim merah jambu itu belum tiba. langit juga masih biru bersih, belumlah meninggalkan semburat jingga keunguan. saya dan dia, tak risau dengan gumam sepi dan rasa sirik saat melihat pasangan-pasangan berkendara berdua.
kami masih bisa mengibaskan rasa sepi dengan berbagi tawa sembari menitikkan bulir bahagia dari sudut mata. mentertawakan kebodohan kami, sembari membayangkan bila google punya layanan sebagai cenayang jodoh di masa depan.
(ps: saya sangat menikmati kesendirian saya. eits, ini bukan sebuah apologi, lo. setidaknya, saya bisa melakukan semuanya sendiri dengan l e l u a s a. tanpa konsesi. tanpa kompromi. sendiri menikmati senja. sendiri jalan-jalan keliling kota. sendiri menyeruput teh poci. sendiri mojok di warung kopi. tu, lihat. teman-teman saya berdatangan. meski sendiri, saya tak sesungguhnya sendiri. banyak teman mengerubungi saya. terima kasih untuk sulaman persahabatan ini.)
saya memanggil ayah saya dengan beragam panggilan.
kadang ayah. kadang bapak. kadang babe, atau lebih sering saya singkat dengan sebutan be saja. kadang daddy, atau dad. bagi ayah saya, beragam panggilan itu tak membuatnya risih. yang penting, saya tak sekadar mencolek atau njawil untuk membicarakan sesuatu. dan, saya masih menghargainya sebagai orang tua yang saya panggil dengan sebutan ayah, atau bapak, atau babe, atau daddy.
"be, diaturi dhahar rumiyin ..." (be, dipersilakan makan dulu)
"do u mind washing these dishes, dad?" (keberatan nggak mencucikan piring-piring ini, dad?)
"ayah, let's have dinner!" (ayah, ayo makan malam!)
"pak, mangga tindhak sak punika ..." (pak, mari berangkat sekarang)
untungnya, meski termasuk generasi super tua, ayah saya tak pernah menolak untuk panggilan dan bahasa yang campur baur itu. saya hampir tak pernah menggunakan bahasa indonesia dalam percakapan sehari-hari, kecuali dalam sebuah diskusi kecil nan serius di ruang makan, sambil makan atau ngopi dan ngeteh. selebihnya, saya menggunakan bahasa jawa krama inggil sesuai tata kesopanan bahasa jawa, dan bahasa inggris yang sering saya kawinkan dengan logat jawa. kalau sudah begini, ayah kemudian mengajak bercanda dengan menggunakan kosakata bahasa jawa yang dicampurkan dengan logat keingris-inggrisan. hallah ...
penggalan kata untuk memanggil beliau, kadang saya teriakkan dari jauh. saat ayah di kebun, dan ada telepon untuknya. atau, saat ayah ada di dapur dan handuk saya ketinggalan saat saya tengah mandi. atau, saat saya sudah di depan pagar dan ayah masih sibuk memilih topi yang serasi dengan pakaian yang akan beliau kenakan. atau, saat saya berlarian dari ujung gang di setiap sabtu pagi, saya sudah berteriak dari kejauhan.
"hello daaaaaaaaddddd!!!" (sambil berlarian kecil dari ujung gang, dan keberatan membawa beban tas di pundak, sambil kebelet pipis)
"beeeeeeeeee .... "
"ayaaaaaaah ... "
"paaaaaaaakkkkk ..."
gurat usia 78 tahun di wajahnya mengabarkan pada saya bahwa ia menikmati cara berkomunikasi dengan putri-putrinya yang lahir dari rahim generasi masa kini. ia tak risau kehilangan kebersahajaannya dengan panggilan 'babe' yang umumnya digunakan oleh orang-orang betawi. ia juga tak pernah mengeluh dengan ketidakkonsistenan putri-putrinya yang sejak kecil sudah ia kondisikan untuk memanggilnya dengan sebutan 'bapak' saja.
pagi tadi, saat mengemasi tanaman di halaman rumah. atau sore tadi, saat memberesi dapur. atau kemarin lusa, saat saya tiba kembali di jogja. atau bahkan besok, besok lusa, minggu depan, 2 bulan lagi, 10 tahun lagi. saya tak lagi punya sebutan itu untuk ayah saya. saya hanya bisa bergumam di depan pusaranya. di depan fotonya. di kamarnya yang hangat. saat membuka pintu rumah. saat di dapur dan makan sendirian.
"hello dad, hows life there? nice venue in heaven?" (hello dad, bagaimana hidupmu disana? pemandangan yang bagus di surga?)
"ayah, tandurane kula beresi nggih ... ben padhang ..." (ayah, tanamannya saya beresin ya, biar terang ...}
"be, femi magang nulis ..." (be, femi magang menulis ...)
"pak, di dhahar sajen-ne ... " (pak, sajen-nya dimakan ya)
menyebut panggilan untuknya, tetapi beliau tak ada di hadapan saya, saya tetap merasa ia mendengarnya. setiap kali panggilan itu keluar dari mulut saya, rasanya sebuah batu besar menindih saya, dan seekor tawon berpindah ke rongga dada saya: s e s a k. saya belum bisa berjalan dengan ringan meski saya menyerukan panggilan itu dengan buncah riang. saya belum bisa menikmati rekahan senja meski saya menyebut panggilan itu dengan rasa hormat yang amat sangat.
pak, femi kangen bapak. iya be, femi kangen. yes, absofuckinglutely missing you, dad!!!
p a i m u n
namanya paimun. sesungguhnya, namanya martinus dwianto, dan seharusnya dipanggil anto. kebiasaan masa sekolah menengah yang memanggil nama ayah ketimbang nama asli, membuat teman-teman hingga kini mengenalnya dengan nama paimun.
suatu hari, saya ke rumahnya dan mengetuk pintu depan. saya bilang, mau mencari paimun ... duh, sungguh saya lupa bahwa paimun adalah nama bapaknya! tapi tetap saja tercetus memangil "mun ..." dan "mun ..."
tinggi
gagah
kokoh
atletis
ya, begitu kira-kira poin tambah bagi lelaki bujang bernama paimun ini.
rambut lurus belah tengah
doyan minum alkohol
memacari pacar orang
berbibir seksi nan tebal
pandai menghibur orang
genap kan?
semasa sekolah di de britto, konon paimun dikenal sebagai benchmark alias standar bagi murid-murid lainnya. ibarat kata, kalau paimun naik kelas, berarti semuanya naik kelas. sebab itu, ia juga dikenal sebagai anak yang peruntungannya paling besar. awalnya diprediksikan tak naik kelas, eh, dia naik kelas. awalnya dituding tak bakal punya pacar cantik, eh, banyak perempuan cantik yang naksir. repot dah ...
jabat persahabatan dengan paimun cukup hangat. teman sakit, dirawat. teman sedih, dihibur. teman ingn jalan-jalan, ditemani. pendeknya, bila disuruh memilih teman atau pacar, yang dinomorsatukan dalah teman.
dan kemarin seharian saya bersamanya. mencecap hangatnya jogja di pagi hari. menabrakkan kendaraan pada pantat truk. menggantang kulit dibawah terik matahari. ngadem sebentar di gedung ber-AC kencang. belanja pakaian. sarapan sate kambing di pinggir kalimambu. santap siang ayam goreng. memamah rotiboy.
dan pulang.
seharian. sehari bersama paimun. berbagi tawa. berbagi pisuhan jorok dan kotor. saling memperlakukan sebagai sahabat dan saudara.
terimakasih. semoga bulir kasih persahabatan ini tak akan purna. saya tahu, diluar sana, tak bisa saya jumpai paimun-paimun lain.
maaf, hari ini saya tak ada mood yang bagus.
sejak pagi tadi kamu menunjukkan warung makan yang salah arah dan kita harus kesasar sangat jauh, mood saya mulai berantakan. ditambah lagi, kita doing nothing sesiang, duit cekak, salah parkir kendaraan di pasar. anjing!
sore tadi menggenapi mood saya yang sangat jelek. kongko di starbucks. saya tak kenal teman kamu. saya juga tak kenal gebetan teman kamu itu. sedangkan kamu dan orang-orang lain asik dan sibuk membincangkan soal teman kamu dan gebetannya. dan, gebetannya terlihat sebagai perempuan bodoh yang sok nggak tahu dan mengerti tanda-tanda cinta yang sudah disinyalkan oleh teman kamu. fuck!
jadinya, saya memilih untuk pergi bersama abang.
makan enak.
ngobrol nyambung.
membagi perbincangan.
saya tak menyesali hari ini. tapi saya tak ingin hal ini terulang lagi.
itu sebab, saya tak ingin minum bir dan berbagi hati dengan kamu. itu sebab, saya ingin tidur cepat dan pagi lekas berganti.
wie dan kuswara. dua kelingking itu saling mengamit. berjanji setia hingga maut memisahkan. belajar saling mengisi hidup. membagi kebahagiaan dan isak tangis. memendam dendam dan menjauhkan amarah. mencipta jejalin kasih dan bulir rindu. semoga kalian bahagia. selamat menjalani hidup menuju kesempurnaan.
sakit?
rasanya tak ada istilah itu di dalam kamus hidup milik saya. suer! yang ada adalah sehat, makan enak, minum air putih sebanyak mungkin, tidur nyenyak, dan bekerja keras. kira-kira ini definisinya:
sehat: nggak penyakitan, bisa kesana-kemari dengan leluasa dan tanpa beban. hidup tanpa sebutir obat.
minum air putih sebanyak mungkin: ini hukumnya wajib. konon, biar metabolisme tubuh lancar. wah, ini sih nggak bisa ditawar!
tidur nyenyak: tidur. dimanapun. beralas apapun. bergaya apapun. yang pokok, besok pagi bangun dengan segar dan berseri.
makan enak: tak harus mahal, yang penting nggak bikin perut mual dan 'nyaman' saat di kunyah di dalam mulut.
bekerja keras: work. work work. what else?
selebihnya, kalau memang harus sakit, rekam medik nomer 039148 atas nama F.Femi Adiningsih juga menunjukkan sakit yang sepele saja. misalnya, panas, batuk, mens tak berhenti, ada klip nyangkut di tenggorokan, rasa mual yang berlebihan, dan sakit gigi.
riwayat keluarga?
puji Tuhan, ayah sehat hingga pucuk hidupnya. meski sesaat sebelum meninggal, ayah ternyata diketahui mengidap penyakit gula. beliau meninggal karena sepsis atau infeksi yang ada di usus yang barusan dioperasi. sedangkan ibu, sejak tahun 80-an harus bergantung pada obat karena sakit gula. maut menjemputnya karena mengalami pembengkakan di jantung dan paru-paru, dan ginjalnya mulai tak berfungsi. namun, keduanya meninggal dalam kondisi yang utuh dan bersih.
saya workaholic.
saya tahu persis itu. bangun, bekerja, jalan-jalan mencari inspirasi, menautkan temuan pada tulisan. tak pernah berhenti belajar menulis. berusaha menjadi yang terbaik, meski tak selalu menjadi yang terdepan. pulang ke jogja, langsung berkebun (dulu bercengkerama dengan ayah!), keliling kota, menjumpai sahabt-sahabat lama, ke gereja, menjumpai ayah dan ibu di rumahnya. tidur kadang hanya 3-4 jam saja sehari. tak bisa lepas dari komputer dan internet. berpikir keras. saya tak ingin ada tanggal merah. inilah nikmat hidup yang tiada terkira!
takut rumah sakit. takut dokter.
itu faktanya. membaui rumah sakit seperti membaui kesakitan yang amat dalam. merongrong tubuh. menumpuk kengerian. saya pernah menulis ketakutan itu di sini. ketakutan terhadpa rumah sakit itu semakin menjadi kini. rasanya, hati saya ini habis setiap masuk rumah sakit. ingat ayah dan ibu yang memilih untuk meninggal di rumah sakit. sungguh, saya tak ingin sakit karena saya takut dnegan rumah sakit.
"periksa dokter ya. check up. kamu nggak pernah istirahat ..."
atau ujaran lain yang bunyinya seperti ini.
"mbok cek dokter, fem. lebih baik tahu sebelumnya, kalau memang misalnya ada apa-apa. nanti aku kirim duit."
kakak-kakak-kakak meminta (tepatnya: memaksa) saya untuk ke dokter. ke rumah sakit. mau tak mau, saya mencatatkan diri. nomor satu, di dokter lucia wahyu hartati. hari ini. 15 item pengecekan darah. hematologi. hitung jenis lekosit. indeks eritrosit. fungsi hati. fungsi ginjal. diabetes. lemak. imuno-serologi. amilase-lipase. USG.
hati-hati, diabetes.
iya. hasil laborat memang begitu. banyak hati-hatinya. banyak yang terlalu rendah. banyak yang terlalu tinggi. "gulanya tinggi sekali, 222!" seru dokter lucia. whooosssssshhhhhh ... seperti ada godam yang memukul rongga dada. sakit. saya diabetes? masih muda sudah berpotensi sakit gula? "Enzim hati, juga diatas batas normal," imbuh dokter lucia. katanya, mestinya tak boleh lebih dari ambang batas. angka-angka di lembaran hasil laborat, hasil pemeriksaan darah saya, sungguh membuat saya tercengang.
iya, a k h i r n y a saya sakit!
"nggak boleh stress. nggak boleh tergesa-gesa, itu memicu depresi dan stress. nggak boleh kecapekan. banyak olah raga. gula dikurangi. ganti makanan serba-gula dengan yang tidak mengandung gula. mumpung masih muda, semoga bisa hilang ..." pesan dokter lucia. iya, iya. masa muda tak akan berulang. masa muda tak akan menghampiri kembali saat angka umur semakin bertambah banyak setiap tahunnya. kecuali, bila saya ingin mati muda.
agaknya, saya harus memasukkan satu istilah ini dalam kamus hidup saya. apa ya baiknya? sakit? atau gula? atau nggak sehat? ah, sama saja. intinya: saya murung.
(ps: "jaga diri, fem. we are getting older!" begitu bunyi pesan pendek dari kakak saya. iya, saya akan jaga diri. lebih-lebih, saya sebatang kara saat ini di Indonesia)
komputer di kubikel saya baru.
ehhhh ... tunggu, tunggu. tetapi, baru-nya bukan baru beli dengan high-specs loh ya.
baru disini maksutnya baru diganti oleh bagian EDP saya. tentu saja, bisa dipastikan, bukan diganti dengan komputer gres. tetapi, dengan komputer lawas yang sama-sama 14", sama-sama warnanya sudah menguning, sama-sama lemot, sama-sama ... Hmm ... yang pokok, nggak jauh beda dengan yang dulu-dulu.
sudah berapa lama ya komputer itu teronggok begitu saja dimeja, tanpa ada sentuhan tangan dari si empunya pabrik ... bisa jadi, hampir satu-setengah tahun. wwwhhhaaatttt ...? lama juga ya. heran gue, pabrik ini tak pernah memberi komputer yang layak guna. mentok-mentoknya, bisa dipake buat nulis dan browsing dengan penuh kesabaran.
terima kasih, sudah menghidupkan kembali komputer saya, setelah saya mengajukan permohonan satu unit monitor layak pakai. dan ternyata setelah monitor dari gudang dipasangkan, CPU nya nggak jalan. eniwei, thanks!
dua malam ini saya tidur di kantor.
kolong saya hangat. ada satu bantal nan empuk, dan dua bantal tak bersarung yang tak membuat saya bersin atau gatal-gatal. di kanan kiri saya, terdapat kardus-kardus yang menghangatkan tubuh saya dari sapuan fan AC yang superdingin.
kolong saya sudah menghalau gulita dan meminggirkan segala letih yang meriung di tubuh sepanjang hari. usai berjumpa dengan narasumber. usai menarikan jemari saya di keyboard. usai mendekap gagang telepon di telinga dan mulut saya. usai memindahkan kaki saya dari gedung ke gedung. usai ...
hingga malam menjemput.
hangat di kolong. letih melebur bersama dengan mimpi bertemu dengan ayah. kolong ini memang tak sehangat kasur pegas di kosan, bahkan tak senyaman kasur kapuk milik ayah yang sekarang kerap saya singgahi. keenganan saya pulang ke kos tengah malam dan menemukan simbok menunggui saya sambil terkantuk-kedinginan, membuat kolong ini menjadi senyaman kasur di kos.
jelas, kolong ini lebih nyaman dari kolong kereta ekonomi yang dulu kerap saya huni. kolong kereta gelap, pengap dan debu tak kasat mata berseliweran di hidung, telinga dan tubuh saya. kolong kereta tak bebas dari injakan pedagang asongan yang nekat menjejerkan kaki kotor dan sandal bapuknya di sebelah wajah saya. dan kolong di kantor ini? jauuuuh lebih nyaman!
nanti malam saya akan pulang ke kos. menjumpai kasur pegas nan empuk. meringkuk di bawah selimut hangat di sprei yang baru saya ganti. dan saya akan menemukan ujung fajar.
(ps: pagi tadi, saya bangun jam 11. dengan muka kusut, saya beranjak meninggalkan kantor, dan pulang kos untuk bebenah badan. sudah dua malam ini saya kurang tidur. nah, malam tadi saya membayarnya!)
ke bali ... tidak ... ke bali ... tidak ... ke bali ... tidak ...
saya ragu mau ke bali atau tidak ke bali. tiket sudah di tangan. tinggal berangkat. bermalam dua malam di sana. menjumpai vicky, teman baik saya. memagut malam dengan sejumlah kenangan.
saya akan berangkat sendiri. disana, saya akan bertemu dengan teman-teman saya yang lain yang memiliki jadual keberangkatan berbeda. tapi kami sudah membikin temu janji disana. mengukur jalanan di sepanjang kuta-denpasar-legian-ubud. meminggirkan nelangsa di pinggir pantai kuta, semalaman. berburu senja di dreamland.
bali ada nutrisi jiwa. barangkali saya akan ke bali, tetapi mungkin juga tidak.
| Previous Page | Next Page |






























